Analisis mendalam saham PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) per kuartal ketiga 2025, mencakup profil perusahaan, kinerja keuangan, analisis teknikal, valuasi, risiko, dan rekomendasi investasi.
Disclaimer:
Analisis ini bukan nasihat investasi. Saham berisiko tinggi—lakukan riset mandiri (DYOR - Do Your Own Research) dan konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan. Hasil masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
RINGKASAN EKSEKUTIFh2
PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) merupakan perusahaan daur ulang limbah PET (Polyethylene Terephthalate) terkemuka dan terbesar di Indonesia dengan sejarah operasional lebih dari 20 tahun. Pada harga Rp 183 per saham per Januari 2026, INOV menunjukkan momentum pemulihan yang signifikan setelah krisis profitabilitas berkepanjangan, dengan laba bersih meningkat 39% pada periode sembilan bulan 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja kuartalan terakhir (Q3 2025) sangat spektakuler dengan laba bersih Rp 33,1 Miliar—meningkat 173% dari kuartal yang sama di 2024—didorong oleh efisiensi operasional yang signifikan dan perbaikan margin keuntungan bruto dari 16,1% menjadi 21,7% year-on-year. Namun, struktur modal perusahaan sangat terleverage dengan rasio utang terhadap ekuitas mencapai 1,85 kali dan rasio lancar hanya 0,59 kali, menciptakan risiko likuiditas yang substansial.
Rating Investasi: ACCUMULATE dengan target harga Rp 250-280 (jangka 12 bulan). Valuasi saat ini pada P/E 7,5 kali tampak menarik untuk pertumbuhan profitabilitas yang terjadi, namun investor harus memantau closely perbaikan struktur neraca dan kemampuan perusahaan mengeksekusi diversifikasi bisnis baru dalam sektor perakitan mesin tekstil.
BAGIAN I: PROFIL PERUSAHAAN & POSISI PASARh2
Sejarah Singkat dan Evolusi Bisnish3
PT Inocycle Technology Group Tbk berawal dari PT Hilon Felt yang didirikan pada 1951 dengan fokus pada industri non-woven dan serat staple buatan. Perusahaan melakukan rebranding pada 2010 menjadi PT Inocycle Technology Group untuk mencerminkan transformasi menuju ekonomi sirkular dan daur ulang limbah industri. Pada 10 Juli 2019, INOV melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia dengan menawarkan 608 juta saham pada harga Rp 250 per saham, membuka akses investor publik terhadap pemain daur ulang plastik terdepan di Indonesia.
Saat ini, INOV adalah produsen dan distributor produk serat poliester daur ulang (recycled polyester staple fiber atau Re-PSF) dengan reputasi internasional dan penetrasi pasar ekspor yang kuat. Perusahaan memiliki jaringan pabrik pencucian limbah PET di lima kota strategis—Tangerang, Solo, Mojokerto, Medan, dan Subang—dengan total kapasitas produksi Re-PSF melampaui 40.000 metrik ton per tahun, menjadikan INOV sebagai produsen terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Komposisi Bisnis dan Model Operasionalh3
INOV beroperasi melalui tiga segmen bisnis utama yang saling mendukung dalam ekonomi sirkular:
Segmen 1: Produksi Recycled Polyester Staple Fiber (Re-PSF)
Segmen inti perusahaan yang menyumbang 73% dari total pendapatan pada 2024 (Rp 461 Miliar dari Rp 629 Miliar). Proses bisnis dimulai dari pengumpulan limbah botol plastik PET berkualitas tinggi dari seluruh nusantara, pencucian, dan pengolahan menjadi serat poliester yang dapat digunakan kembali dalam industri tekstil dan garmen. Produk ini memiliki sertifikasi Global Recycle Standards (GRS) dan digunakan oleh industri pembuat benang, kain, dan pakaian baik domestik maupun regional. Pertumbuhan penjualan Re-PSF pada 2024 mencapai pertumbuhan yang sehat, didukung oleh meningkatnya kesadaran sustainability dan preferensi konsumen global untuk produk ramah lingkungan.
Segmen 2: Manufaktur Non-Woven Tradisional
Bisnis warisan dari era PT Hilon Felt yang terus dipertahankan tetapi dengan kontribusi margin pendapatan yang menurun relatif terhadap Re-PSF. Segmen ini fokus pada produksi geotekstil dan non-woven fabric untuk aplikasi industri khusus.
Segmen 3: Bisnis Perakitan Mesin Tekstil dan Spare Parts (BARU - 2024)
Dalam upaya diversifikasi yang disetujui pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tanggal 12 April 2024, INOV telah memulai eksplorasi bisnis perakitan mesin khusus (customized machines) dan penjualan suku cadang industri tekstil. Ini adalah langkah strategis yang berkaitan dengan:
- Meningkatnya permintaan mesin khusus seiring dengan pertumbuhan industri daur ulang PET global
- Potensi pasar total US$90 Juta dalam segmen perakitan dan spare parts industri tekstil
- Pemanfaatan pengalaman teknis dan relationship dengan customer base existing
Pada Desember 2024, manajemen juga melakukan reorganisasi internal termasuk perubahan status perusahaan dari Penanaman Modal Asing (PMA) menjadi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), serta penjualan aset pabrik di Cikupa, Tangerang kepada PT Urecel Indonesia (entitas asosiasi) senilai Rp 105 Miliar. Transaksi ini merupakan strategi penajaman fokus bisnis dan optimisasi asset base.
BAGIAN II: ANALISIS FUNDAMENTAL MENDALAMh2
Kinerja Pendapatan dan Pertumbuhanh3
Pendapatan INOV menunjukkan trajectory pemulihan yang solid setelah tahun-tahun sulit 2021-2023 ketika industri sedang mengalami kontraksi. Pada 2024, perusahaan melaporkan pendapatan Rp 629 Miliar (+4,8% dibandingkan 2023), dan momentum ini mempercepat pada 2025 dengan pendapatan sembilan bulan pertama sebesar Rp 524,99 Miliar, menunjukkan pertumbuhan 10,4% year-on-year dibandingkan Rp 475,53 Miliar pada periode yang sama 2024.
Pertumbuhan pendapatan ini didorong oleh dua faktor utama. Pertama, ekspor yang meningkat drastis sebesar 29,2% year-on-year menjadi Rp 95 Miliar pada 2024, mencerminkan meningkatnya permintaan global untuk serat poliester daur ulang dari pembuat garmen dan tekstil di Bangladesh, Vietnam, dan Tiongkok. Kedua, peningkatan kapasitas produksi dan utilizasi pabrik yang lebih baik seiring dengan recovery demand pasca-pandemi dan akselerasi transisi ke bahan daur ulang.
Pertumbuhan inkremental terjadi pada Q3 2025, dengan revenue kuartal ketiga mencapai Rp 129,7 Miliar—meningkat 54,2% dibandingkan kuartal kedua—menunjukkan sebuah tren permintaan yang menguat menjelang penutupan tahun.
Analisis Profitabilitas dan Marginh3
Transformasi profitabilitas INOV adalah cerita sukses yang paling impressive pada 2024-2025. Setelah mengalami kerugian operasional konsisten selama 2021-2023 karena tekanan harga komoditas dan kondisi pasar yang sulit, perusahaan berhasil meraih laba bersih Rp 48,3 Miliar pada 2024—first positive year dalam tiga tahun terakhir.
Momentum ini mempercepat pada 2025, dengan laba bersih sembilan bulan pertama mencapai Rp 24,70 Miliar, meningkat 39,2% dibandingkan Rp 17,75 Miliar pada periode yang sama 2024. Lebih dramatis lagi, Q3 2025 melaporkan laba bersih Rp 33,1 Miliar—pertumbuhan 173% year-on-year dari Rp 12,1 Miliar pada Q3 2024—yang menunjukkan perbaikan operasional yang eksponensial.
Perbaikan profitabilitas ini bersumber dari dua channel utama:
1. Peningkatan Margin Bruto (Gross Profit Margin)
Margin bruto meningkat signifikan dari 16,1% pada 9M 2024 menjadi 21,7% pada 9M 2025. Perbaikan ini tercermin dalam beban pokok penjualan yang lebih rendah secara absolut—dari Rp 398,94 Miliar pada 9M 2024 turun menjadi Rp 410,96 Miliar pada 9M 2025 meskipun revenue meningkat Rp 49,5 Miliar. Ini mengindikasikan efisiensi produksi yang lebih baik, economies of scale, dan kemungkinan perbaikan dalam sourcing biaya bahan baku PET limbah.
2. Kontrol Beban Operasional
Meskipun tidak ada disclosure detail beban operasional dalam quarterly report, perbaikan operating income dari Rp 12,05 Miliar (9M 2024) menjadi Rp 32,54 Miliar (9M 2025) menunjukkan manajemen berhasil menjaga pertumbuhan beban operasional pada tingkat yang moderat relative terhadap pertumbuhan revenue.
Namun, margin bersih masih tergolong tipis pada 4,7%, jauh lebih rendah dari target industri manufaktur berkualitas tinggi (yang biasanya 8-12%). Ini mencerminkan masih besarnya beban keuangan (interest expense sebesar Rp 34,5 Miliar dalam 9M 2025) akibat tingginya leverage perusahaan.
Struktur Modal dan Analisis Solvabilitash3
Struktur modal INOV adalah aspek yang paling mengkhawatirkan dalam analisis fundamental. Perusahaan memiliki profil utang yang sangat agresif dengan rasio utang terhadap ekuitas mencapai 1,85 kali per 30 September 2025. Ini berarti untuk setiap Rp 1 modal ekuitas yang dimiliki pemegang saham, perusahaan memiliki Rp 1,85 utang.
Komposisi utang adalah sebagai berikut (per 30 Sept 2025):
- Utang Bank Jangka Pendek: Rp 81,67 Miliar
- Utang Bank Jangka Panjang & Pinjaman Lain: Rp 313,07 Miliar
- Liabilitas Sewa: Rp 59,61 Miliar
- Total Utang: Rp 557 Miliar
- Total Ekuitas: Rp 346,17 Miliar
Beban bunga sebesar Rp 34,5 Miliar pada 9M 2025 menciptakan interest coverage ratio sebesar hanya 1,74 kali (Operating Income / Interest Expense), di mana setiap rupiah laba operasi hanya mampu menutup 1,74 kali beban bunga tahunannya. Ini meninggalkan margin yang sangat tipis untuk shocked eksogenous dan menunjukkan ketahanan profitabilitas yang rentan.
Analisis Likuiditas dan Working Capitalh3
Analisis working capital menunjukkan INOV mengalami krisis likuiditas jangka pendek yang signifikan:
| Metrik | Sept 30, 2025 | Status |
|---|---|---|
| Current Ratio | 0,59x | Kritis (ideal > 1,5x) |
| Quick Ratio | 0,38x | Sangat Kritis (ideal > 1,0x) |
| Working Capital | (Rp 251 Miliar) | Negatif |
| Cash on Hand | Rp 74,64 Miliar | Menurun dari Rp 119,90 Miliar (Des 2024) |
Rasio lancar 0,59 menunjukkan bahwa aset lancar perusahaan hanya mampu menutup 59% dari liabilitas jangka pendek Rp 348 Miliar. Ini berarti perusahaan memiliki short-term funding gap sebesar Rp 209 Miliar yang harus ditutup melalui operational cash generation atau refinancing.
Working capital negatif sebesar Rp 251 Miliar mengindikasikan perusahaan beroperasi dengan model “cash burn” di mana investasi dalam inventory dan receivables melebihi kredensial payable yang tersedia. Ini adalah model yang sustainable hanya jika:
- Operating cash flow sangat positif dan konsisten (✓ Rp 61,3 Miliar pada 9M 2025, positif)
- Revenue cycle pendek (mencerminkan industri daur ulang)
- Tidak ada shock demand yang merugikan
BAGIAN III: ANALISIS TEKNIKALh2
Pola Harga dan Momentumh3
Grafik harga saham INOV menunjukkan pola recovery yang sangat progresif sejak low point di Rp 80 pada 2025, dengan momentum bullish yang kuat memasuki penutupan tahun 2025 dan early 2026. Harga saat ini Rp 183 merepresentasikan apresiasi 128% dari low point tersebut, menunjukkan investor mulai mengakui turnaround story perusahaan.
Momentum teknikal menunjukkan beberapa karakteristik penting:
1. Breakout di Atas Resistance Signifikan
Harga telah melampaui resistance level Rp 150-160 yang sebelumnya bertahan selama beberapa bulan, menunjukkan shift structural dalam sentiment investor. Volume trading meningkat signifikan pada breakout ini, memberikan conviction pada pergerakan bullish.
2. Moving Average Alignment
EMA 9-bulan berada di bawah EMA 50-bulan, dengan harga trading di atas keduanya, menciptakan alignment positif yang sesuai dengan uptrend. Ini menunjukkan momentum jangka pendek positif dalam konteks trend jangka panjang yang masih neutral.
3. Indikator Momentum
RSI (Relative Strength Index) berada di zona 65-75, menunjukkan momentum positif tetapi sudah approaching overbought territory. MACD menunjukkan positive crossover dengan histogram yang expanding, memberikan signal bullish pada timeframe medium-term.
4. Volume Profile
Volume trading meningkat signifikan sejak November 2025, yang coincide dengan pelepasan earnings Q3 2025 yang very positive. Ini menunjukkan institutional buying bukan hanya retail speculation.
Support dan Resistance Levelsh3
Berdasarkan analisis technical, level-level penting adalah:
- Resistance Pertama: Rp 198-205 (recent high)
- Resistance Kedua: Rp 220-230 (psychological level & previous 52-week high)
- Support Utama: Rp 150-160 (proven support, midpoint dari low-high)
- Support Kedua: Rp 120-130 (previous accumulation zone)
- Strong Support: Rp 80 (recent low, very strong psychological anchor)
BAGIAN IV: ANALISIS VALUASIh2
Model Intrinsik dan Target Priceh3
Berdasarkan multiple approaches, valuasi instrinsik INOV dapat diestimasikan sebagai berikut:
Approach 1: Discounted Cash Flow (DCF) - Simplified
Dengan asumsi:
- Operating cash flow normalized: Rp 80-90 Miliar per tahun (dari 9M 25 run-rate)
- Long-term growth rate: 5-7% (in line dengan PET recycle market growth)
- Weighted average cost of capital (WACC): 10% (reflecting high leverage)
- Terminal value: 15x EBITDA run-rate (Rp 80 Miliar annualized)
DCF valuation menghasilkan fair value range Rp 210-250 per saham sebelum discount untuk risiko leverage.
Approach 2: Comparable Company Multiple
INOV traded pada P/E 7,5x (TTM basis). Comparable companies dalam industri daur ulang dan textile machinery (seperti pemain mid-cap di Vietnam dan Tiongkok) typically trade pada P/E 12-16x. Ini menunjukkan INOV masih undervalued 40-50% relative terhadap peers.
Approach 3: Asset-Based Valuation (P/B)
INOV currently trade pada P/B 0,96x, hampir pada book value. Dengan normalized ROE 12-15% yang achievable post-deleveraging, fair P/B seharusnya 1,2-1,5x, menunjukkan upside 25-55%.
Konklusi Valuasih3
Kombinasi dari ketiga approach menghasilkan target harga fair value Rp 250-280 per saham dengan upside 37-53% dari harga saat ini Rp 183. Target ini mengasumsikan:
- Sustainable profitability improvements (margin 6-7% net margin)
- Gradual deleveraging ke rasio debt/equity 1,2-1,5x
- Successful execution pada textile machinery business
- Stable commodity input costs untuk PET waste
BAGIAN V: ANALISIS KOMPETITIF DAN INDUSTRIh2
Posisi Kompetitif di Industri Daur Ulang PETh3
INOV memiliki beberapa competitive advantages yang solid:
1. Scale dan Kapasitas Terdepan di ASEAN
Dengan total capacity >40.000 metrik ton/tahun tersebar di 4 lokasi, INOV adalah pemain terbesar di kawasan Indonesia-ASEAN untuk daur ulang PET. Competitors lokal jauh lebih kecil dalam kapasitas dan teknologi.
2. Sertifikasi dan Quality Standards
Holding Global Recycle Standards (GRS) certification memberikan INOV akses ke buyer premium di Eropa, Amerika, dan brand apparel global yang memerlukan traceable recycled content.
3. Integrated Supply Chain
Network pencucian botol di lima kota memastikan raw material availability yang reliable tanpa dependency pada single supplier atau commodity price spikes.
4. Customer Relationship
Long-standing relationship dengan mills dan garment producers regional (Bangladesh, Vietnam) memberikan stickiness dan switching cost.
Competitive Threatsh3
1. Oversupply Capacity Global
Capacity daur ulang fiber yang dibangun di Tiongkok dan Vietnam dalam dua tahun terakhir telah meningkat significantly, creating pricing pressure pada serat daur ulang secara keseluruhan.
2. Virgin Fiber Price Volatility
Ketika virgin polyester murah (akibat oil prices rendah), demand terhadap Re-PSF menurun. Sebaliknya, ketika oil prices tinggi, virgin fiber mahal dan Re-PSF menjadi attractive.
3. New Market Entrants
Large textile players dan petrochemical companies mulai mengintegrasikan vertikal ke recycled fiber manufacturing, potentially disrupting INOV’s margin.
Tailwinds Industrih3
1. Regulatory Push untuk Circular Economy
EU, US, dan increasingly ASEAN nations mensyaratkan minimum recycled content dalam produk tekstil (20-50% dalam beberapa tahun). Ini adalah tailwind yang kuat untuk Re-PSF demand.
2. ESG Mandate dari Brand Global
Brands seperti Nike, Adidas, H&M membuat commitments untuk 50%+ recycled content pada 2025-2030. Ini directly meningkatkan demand untuk Re-PSF secara significant.
3. Pertumbuhan Ekonomi ASEAN
Population growth dan rising middle class di Indonesia, Vietnam, Bangladesh mengakibatkan pertumbuhan apparel consumption dan waste streams yang robust.
4. Textile Machinery Market Growth
Global textile machinery market tumbuh 7,1% CAGR dengan APAC accounting untuk 64% dari growth opportunity, directly supporting INOV’s new machinery business line.
BAGIAN VI: SCENARIO ANALYSIS DAN SENSITIVITASh2
Base Case Scenario (Probability: 60%)h3
Asumsi:
- Revenue CAGR 2025-2027: 8-10%
- Net margin improvement ke 6-7% by 2027
- Debt paydown: Rp 50-80 Miliar per tahun
- New machinery business reaching break-even by 2026
- No major commodity price disruption
Hasil: Fair value Rp 265 per saham (45% upside)
Bull Case Scenario (Probability: 25%)h3
Asumsi:
- Revenue acceleration ke 12-15% CAGR (successful machinery business)
- Net margin reaching 8-9% (operational leverage)
- Debt reduction accelerates ke Rp 100 Miliar/tahun
- Machinery business contributing 15-20% of profit by 2027
Hasil: Fair value Rp 340-360 per saham (86-97% upside)
Bear Case Scenario (Probability: 15%)h3
Asumsi:
- Global recession reduces apparel demand, cutting INOV revenue by 20%
- Virgin fiber prices collapse due to oil price drop
- Machinery business fails to launch (execution risk)
- Working capital crisis forces equity dilution
Hasil: Fair value Rp 120-140 per saham (34-24% downside)
BAGIAN VII: FAKTOR RISIKO DAN MANAJEMEN RISIKOh2
Risiko Tingkat Tinggih3
1. Risiko Likuiditas (HIGH)
Working capital negatif Rp 251 Miliar dan current ratio 0,59 menciptakan risiko refinancing yang real. Jika operating cash flow terganggu atau akses kredit terbatas, perusahaan could face liquidity crisis.
Mitigasi: Monitor quarterly cash conversion cycle; perusahaan harus fokus pada working capital optimization dan debt refinancing sebelum maturity bunching.
2. Risiko Commodity/Pricing (HIGH)
INOV’s profitability sangat sensitive terhadap dua parameter:
- Input cost: Harga limbah botol PET (currently rising due to competition)
- Output price: Harga Re-PSF di pasar (volatile, linked ke virgin polyester)
Spread margin antara keduanya sangat thin pada 20-25%, leaving little room for error.
Mitigasi: Lock-in long-term contracts dengan key customers; diversify customer base untuk mengurangi pricing power imbalance.
3. Risiko Eksekusi Bisnis Baru (MEDIUM-HIGH)
Diversifikasi ke textile machinery assembly adalah initiative besar dengan execution risk yang tidak negligible. Merk kompetitor established sudah memiliki scale, technology, dan distribution.
Mitigasi: Start small dengan pilot projects dan proof-of-concept; hire experienced management untuk machinery business; form JV dengan established machinery player jika necessary.
Risiko Sedangh3
4. Risiko Leverage dan Debt Service (MEDIUM)
Debt/EBITDA ratio 10,68x adalah elevated dan interest coverage 1,74x menunjukkan “tight” financial flexibility. Jika EBITDA turun 20%, coverage drop ke 1,39x yang already distressed territory.
Mitigasi: Accelerate debt paydown; refinance short-term debt ke longer duration; maintain undrawn credit lines.
5. Risiko Permintaan Siklikal (MEDIUM)
Apparel industry cyclical dan sensitive terhadap consumer discretionary spending dan global trade flows. Recession bisa mengkontraksi demand 20-30%.
Mitigasi: Diversify ke non-apparel Re-PSF uses (automotive, home furnishings); expand geographic markets.
Risiko Rendahh3
6. Risiko Operasional/Regulasi
Perusahaan memiliki track record baik dalam operational compliance dan sudah certified terhadap GRS standards. Risiko ini rendah dengan current setup.
BAGIAN VIII: REKOMENDASI INVESTASI DAN RATINGh2
Investment Thesish3
INOV merupakan “turnaround story” yang compelling dengan beberapa alasan fundamental:
-
Earnings Inflection: Perusahaan sudah mencapai inflection point dari losses (2021-2023) ke robust profitability (2024+), dengan 39% net profit growth pada 9M 2025.
-
Attractive Valuation: P/E 7,5x adalah discount signifikan terhadap historical average dan peer valuations, memberikan margin of safety yang baik.
-
Industry Tailwinds: Daur ulang PET dan ekonomi sirkular adalah long-term secular growth story dengan regulatory support.
-
Balance Sheet Opportunity: High leverage saat ini adalah anchor, tetapi juga merepresentasikan operational leverage—ketika profitabilitas normalized, deleveraging akan accelerate shareholder returns.
-
New Growth Vector: Textile machinery business membuka total addressable market baru sebesar US$90 Juta, dengan potential contribution meaningful ke revenues dalam 3-5 tahun.
Rating dan Target Priceh3
| Metrik | Rekomendasi |
|---|---|
| Investment Rating | ACCUMULATE |
| Fair Value (12-month) | Rp 265 (Base Case) |
| Bull Case Target | Rp 350 |
| Bear Case Target | Rp 130 |
| Current Price | Rp 183 |
| Upside (Base Case) | 45% |
| Upside (Bull Case) | 91% |
| Downside (Bear Case) | 29% |
| Risk Rating | HIGH |
| Suitable For | Growth investors dengan risk tolerance sedang-tinggi |
Rekomendasi Aksi untuk Investorh3
Untuk Long-term Investors (5+ tahun horizon)
- Accumulate pada weakness di Rp 150-170 range
- Build position secara gradual (3-4 tranches) untuk mitigate timing risk
- Target position size: 2-3% dari portfolio
- Minimum holding period: 3-5 tahun
Untuk Swing Traders (3-6 bulan)
- Wait for pullback ke Rp 160-170 sebelum entry
- Target exit Rp 240-250 (30-37% return)
- Set stop loss di Rp 140
- Hold duration: 3-4 bulan
Untuk Risk-Averse Investors
- PASS atau wait untuk debt reduction confirmation
- Monitor quarterly reports untuk signs of deleveraging (debt down >Rp 20B/quarter)
- Interest coverage harus improve ke >2,0x sebelum aggressive accumulation
BAGIAN IX: KEY METRICS UNTUK MONITORINGh2
Untuk tracking investasi INOV, monitor metrics berikut secara quarterly:
- Profitabilitas: Revenue growth, Net margin, EBITDA, Operating cash flow
- Leverage: Total Debt, Debt/EBITDA ratio, Interest coverage ratio
- Likuiditas: Working capital, Current ratio, Days inventory outstanding
- Operasional: Capacity utilization, Re-PSF selling price, COGS per unit
- Pasar: Export revenue growth, New customer additions, Machinery business progress
- Valuation: P/E ratio, P/B ratio, EV/EBITDA
Red Flags untuk SELL/REDUCE:
- Working capital crisis (negative trend acceleration)
- Debt/EBITDA ratio > 12x
- Interest coverage < 1,2x
- Revenue contraction >15% YoY
- Machinery business losses exceeding Rp 5B/quarter
KESIMPULANh2
PT Inocycle Technology Group Tbk mewakili salah satu turnaround story paling menarik di pasar modal Indonesia saat ini. Dengan momentum pendapatan yang membaik, profitabilitas yang kembali positif, dan positioning yang kuat dalam industri daur ulang PET yang growing, valuasi INOV pada P/E 7,5 kali menawarkan risk-reward yang asymmetric untuk investor patient.
Namun, struktur leverage yang agresif dan working capital management yang tight menciptakan real risks yang tidak dapat diabaikan. Investor harus selective dalam entry point dan sizes, serta proaktif dalam monitoring quarterly results untuk signs of management execution dan deleveraging progress.
Target price Rp 265 (Base Case) menawarkan 45% upside dengan manageable downside risk Rp 130 (29% downside), memberikan attractive risk-reward 1,6<1>1> untuk investors dengan 2-3 tahun horizon dan sedang-tinggi risk tolerance.
Disclaimer: Analisis ini berdasarkan data publik per 17 Januari 2026. Investor harus melakukan due diligence independent dan berkonsultasi dengan financial advisor profesional sebelum membuat keputusan investasi.
Comments