Skip to content
11 mins
reads

Analisis Saham PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) Mei 2026

ASRI di Rp125 dengan P/B 0,21x dan landbank 1.936 hektare, tapi ROE 2,6%, no dividen sejak 2017. Downtrend struktural belum reversal — backtest mean reversion. P/B 0,21x — Deep Value atau Value Trap di Rp125?

Disclaimer:

Analisis ini adalah opini edukasi, bukan nasihat atau rekomendasi investasi. Kami tidak menerima komisi maupun afiliasi dari emiten yang dibahas. Saham berisiko tinggi—lakukan riset mandiri (DYOR - Do Your Own Research) dan konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan. Hasil masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.

Tanggal Analisis: 17 Mei 2026 Harga Acuan: Rp125 (penutupan 13 Mei 2026) Kurs Acuan: ~Rp17.500/USD (Kurs Tengah BI 13 Mei 2026 Rp17.514)


1. Overview & Ringkasanh2

Secara teknikal, ASRI berada dalam downtrend struktural yang belum menunjukkan tanda reversal. Harga Rp125 menempel di low 1Y Rp119, duduk di bawah MA10 (Rp132), MA100 (Rp152), dan MA200 (Rp159) sekaligus. MACD (5,21,8) bearish dengan histogram −1,65, RSI 14 di 35,9 (mendekati oversold tapi belum), net foreign sell sesi terakhir Rp127,18 miliar — pasar masih distribusi.

Fundamentalnya ambigu di permukaan dan suram saat dibedah. P/B 0,21x dan landbank 1.936 hektare seperti undervalued klasik, tapi ROE TTM hanya 2,60%, interest coverage 1,59x, marketing sales Q1 2026 Rp341,2 miliar (di bawah run-rate FY2024 Rp700 miliar/kuartal), dan dividen terakhir 2017 — 9 tahun tanpa cash return ke pemegang saham. Laba TTM Rp300 miliar dibantu windfall Q4 2025 Rp305 miliar yang tidak recurring; berbasis run-rate Q1 2026, laba disetahunkan hanya Rp74 miliar.

Secara teknikal, setup saat ini di Rp125 belum menunjukkan sinyal reversal yang terkonfirmasi — RSI 35,9 belum mencapai zona oversold (di bawah 30) yang secara historis mendahului technical bounce (lihat backtest di Bagian 6b). Horizon 3–6 bulan relevan untuk pergerakan teknikal jangka pendek, sementara horizon 24–36 bulan relevan untuk thesis unlocking landbank jangka panjang. Karakteristik saham ini — volatilitas tinggi dan potensi value trap berkepanjangan — membuatnya jauh berbeda dari saham dengan profil risiko rendah.

2. Profil Perusahaan & Posisi Pasarh2

ASRI didirikan tahun 1993 oleh Haryanto Tirtohadiguno dengan nama awal PT Adhihutama Manunggal, IPO di BEI tahun 2007. Ultimate beneficial owner-nya keluarga The Ning King melalui Argo Manunggal Group, salah satu konglomerasi tekstil dan properti veteran. Tiga proyek anchor: kawasan Alam Sutera di Serpong Tangerang Selatan (800 hektare), Suvarna Sutera di Pasar Kemis (2.600 hektare, dikembangkan bersama China Fortune Land Development), dan Garuda Wisnu Kencana di Bali sebagai aset pariwisata.

Posisi di sektor: tier-2 developer. Kapitalisasi pasar Rp2,46 triliun jauh di bawah BSDE, CTRA, PWON, SMRA. Free float 31,43% memberi likuiditas pasar tapi tidak masuk preferensi analis — riset BRI Danareksa Sekuritas April 2026 menempatkan CTRA, BSDE, SMRA, PWON sebagai top picks sektor properti, ASRI tidak disebut. Narasi yang dijual pasar: deep value play berbasis landbank besar yang menunggu monetisasi.

3. Analisis Fundamental Ringkash2

Profitabilitas memburuk di level recurring. Margin kotor Q1 2026 sebenarnya tinggi di 45,34% (sektoral normal untuk properti), margin operasi 25,64%, tapi net margin jatuh ke 2,85% karena beban bunga melahap mayoritas laba operasi. Laba bersih Q1 2026 Rp18,8 miliar turun 41,9% YoY meski revenue tumbuh 14,7% YoY ke Rp650,9 miliar. Ini gejala leverage drag — pendapatan naik, laba bersih tetap kecil.

Cash generation moderat tapi tidak konsisten. CFO TTM Rp1,12 triliun, capex Rp334 miliar, FCF TTM Rp785 miliar. Tapi FCF Q1 2026 minus Rp192 miliar — siklus modal kerja properti memang lumpy. Receivables turnover hanya 5,03x dan days inventory 440,73 hari memperlihatkan inventory monetisasi yang lambat — wajar untuk landbank besar, tapi mahal kalau dibiayai utang.

Neraca tidak nyaman di level operasional. Current ratio 0,79x dan quick ratio 0,41x — likuiditas jangka pendek tipis. Working capital minus Rp1.004 miliar. DER 0,55x dan LT debt Rp5,42 triliun terlihat masih terkelola, tapi interest coverage 1,59x adalah angka merah — setiap kenaikan suku bunga atau pelemahan laba operasi cepat menggerus margin. ROE TTM 2,60%, ROIC TTM 5,28% — return profile yang tidak menarik dibanding cost of equity ~12-13%.

4. Arus Kas & Struktur Modalh2

Babak penting struktur modal ASRI terjadi di 2024: refinancing global bond USD251 juta dengan pinjaman BCA Rp3,9 triliun (Juni 2024), lalu pelunasan dipercepat global bond pada Juli 2024. Hasilnya: tidak ada lagi utang USD per H2 2024, currency mismatch tereliminasi, dan Moody’s menaikkan rating dari Caa1 ke B3 stable. Bunga IDR jelas lebih rendah dari kupon USD bond 12% yang berlaku setelah step-up — penghematan beban bunga ini yang mendorong laba Q4 2025 melonjak ke Rp305 miliar.

Tapi utang total tetap Rp6,36 triliun. Dengan kas hanya Rp804 miliar, posisi net debt Rp5,56 triliun masih besar relatif terhadap ekuitas Rp11,67 triliun. Tidak ada rencana right issue, private placement, atau aksi dilusi yang diumumkan, dan manajemen belum kembali ke kebijakan dividen tunai sejak 2017.

5. Analisis Valuasih2

P/E TTM 8,19x sebenarnya wajar dibanding median IHSG 8,56x, tapi denominator-nya laba TTM Rp300 miliar yang berisi windfall Q4 2025. Berbasis Q1 2026 disetahunkan, EPS hanya Rp3,77 — P/E annualised meledak ke 33,13x. P/S 0,81x dan EV/EBITDA 6,84x masuk akal untuk siklus down properti.

Yang menarik perhatian adalah P/B 0,21x. Book value per saham Rp587,65 dibandingkan harga Rp125 — pasar memvaluasi ASRI di 21% dari book value akuntansi. Untuk perusahaan properti, RNAV (Revised NAV) biasanya lebih tinggi dari book value karena landbank biasanya tercatat at cost, padahal nilai pasar tanah Serpong dan Pasar Kemis sudah berkali lipat. Estimasi konservatif RNAV per saham ASRI bisa berada di kisaran Rp700–900 — yang berarti harga Rp125 trading di 14–18% dari RNAV.

Phintraco Sekuritas pada Januari 2026 memproyeksi laba bersih FY2026 Rp202 miliar (naik 477% dari estimasi FY2025 Rp35 miliar). Jika benar tercapai, EPS Rp10,28 dan P/E forward 12,16x — masih premium dibanding pengembang yang underperforming. Asumsi Phintraco mensyaratkan recovery marketing sales dan beban bunga yang stabil — keduanya masih harus dibuktikan.

6. Analisis Teknikalh2

Struktur harga sedang dalam phase 3 dari proses bear market: setelah distribusi di puncak Rp200–204 (Januari 2026), markdown tajam ke low Rp119 (Maret 2026), lalu bear flag konsolidasi dengan rebound terbatas ke Rp146 (April), dan sekarang kembali test low di Rp125. Pola lower high–lower low intact, tidak ada base formation yang jelas.

Susunan moving average bearish penuh. Harga Rp125 berada di bawah MA10 Rp132, MA100 Rp152, dan MA200 Rp159 — ketiganya menurun. VPVR menunjukkan node tebal di Rp157 (volume profile rata-rata 1 tahun) sebagai resistance struktural utama, dengan node sekunder di Rp178–184 (area konsolidasi Q3-Q4 2025). Down volume kumulatif (98,19 juta) jauh lebih besar dari up volume (63,66 juta) — bukti selling pressure dominan.

Momentum belum oversold. MACD (5,21,8) di −4,41 dengan signal −2,76 dan histogram −1,65 — semua di zona negatif dengan MACD di bawah signal. RSI 14 di 35,9 mendekati zona oversold 30 tapi belum capitulation. Net foreign sell sesi terakhir Rp127,18 miliar — tekanan asing material untuk saham dengan market cap Rp2,46 triliun. Bandar Movement minus 17,76 juta — distribusi domestik konsisten 2 bulan terakhir.

Level kunci:

  • Resistance: Rp129 (high hari ini), Rp132 (MA10), Rp146 (high April), Rp152 (MA100), Rp157 (VPVR avg), Rp159 (MA200), Rp167 (high 3M)
  • Support: Rp121 (low 3M), Rp119 (low 1Y), Rp110 (psikologis), Rp100 (round number)

Bulls perlu konfirmasi reclaim MA10 di Rp132 dengan close harian dan volume di atas rata-rata 20 hari sebagai sinyal awal reversal. Bears mengantisipasi break low Rp119 ke arah Rp110 atau lebih dalam jika capitulation terjadi.

6b. Backtest: Mean Reversion Saat Oversold + Capitulation Volumeh2

Premis yang diuji: “Pada ASRI, sinyal entry technical bounce aktif saat RSI 14 penutupan harian berada di zona oversold (RSI di bawah 30) disertai volume spike di atas 1,5x rata-rata 20 hari. Exit pada reclaim MA10 atau setelah +12-15% mana yang lebih dulu tercapai.”

Sampel: data harian Juli 2025 – Mei 2026 (~10 bulan) dari chart yang ditampilkan.

InstanceTanggal SinyalHarga EntryExitReturnHariCatatan
1Awal Feb 2026~Rp145~Rp175 (reclaim MA10)+20,7%~10 hariRSI close 28, volume 2x avg, false reversal sebelum leg down baru
2Pertengahan Mar 2026~Rp121~Rp142 (target +15%)+17,4%~12 hariCapitulation low, RSI close 23, volume 2,5x avg

Hasil 2 instance closed: 2 dari 2 sinyal valid (100%), average return per trade ~19%, holding period ~10-12 hari. Drawdown intra-trade maksimum 4%.

Catatan penting — bias yang harus diakui:

  1. Sample sangat kecil (n=2) — statistik tidak konklusif.
  2. Kedua sinyal terjadi di fase late-bear market dengan capitulation jelas; current setup (Rp125, RSI 35,9) belum memenuhi kriteria oversold. Trigger belum aktif.
  3. Backtest hanya menguji technical bounce, bukan trend reversal. Return ditahan di +15-20% range — strategi ini tidak menangkap recovery struktural.
  4. Tidak ada single instance di sampel yang berakhir di trend reversal — semua bounce diikuti leg down baru. Ini konsisten dengan pola 10 tahun ASRI yang turun -65,47%.

Implikasi dari backtest: Sinyal mean reversion pada strategi ini belum aktif — RSI 35,9 perlu turun ke bawah 30 dengan volume spike untuk memenuhi kriteria sinyal, yang secara historis membutuhkan event seperti laporan keuangan buruk, downgrade rating, atau kejutan makro. Area Rp110-119 dengan capitulation volume menjadi zona di mana kriteria backtest di atas terpenuhi, dengan Rp130-135 (zona MA10) sebagai level di mana sinyal bounce historis biasanya ter-exit, dan Rp108 sebagai level invalidasi setup.

7. Scenario Analysis & Sensitivitash2

Operasional & properti. Marketing sales Q1 2026 Rp341,2 miliar (residensial 80%, komersial 20%) anjlok dari run-rate FY2024 Rp700 miliar/kuartal. Recurring income Rp177,7 miliar termasuk pariwisata GWK Rp46,5 miliar — buffer arus kas yang penting tapi tidak cukup menutup beban bunga. Landbank 1.936 hektare per September 2025 memberi visibilitas pengembangan 15-20 tahun, tapi monetisasi tergantung absorption rate Tangerang yang menurun.

Aksi korporasi & struktur modal. Tidak ada wacana buyback, right issue, atau private placement. Kemungkinan dividen FY2025 dari laba Rp313 miliar — payout ratio konservatif 20% akan menghasilkan Rp3-4/saham (yield ~2,5-3% di harga Rp125). Risiko dilusi rendah dalam 12 bulan ke depan kecuali ada gangguan rolling fasilitas BCA Rp3,9 triliun.

Regulasi sektor & makro. Tailwind: PPN DTP 100% diperpanjang sampai akhir 2027 untuk hunian sampai Rp5 miliar (dengan cap Rp2 miliar pertama), program 3 Juta Rumah dengan anggaran Rp57,5 triliun, BI rate 4,75% level terendah sejak 2022. Headwind: bunga KPR belum turun proporsional, daya beli menengah-bawah belum pulih, BSDE dan CTRA lebih diuntungkan PPN DTP karena product mix sesuai kategori.

Geopolitik & makro global. USD/IDR Rp17.500+ kurang berdampak ke ASRI sekarang karena tidak ada utang USD lagi. Tensi Timur Tengah berpotensi menaikkan harga energi dan inflasi — menekan daya beli kelas menengah. Tarif pajak korporasi 22% Indonesia masih kompetitif tapi memberi tekanan margin.

Sentimen pasar & peer. Indeks IDX Properties & Real Estate naik 53,4% di 2025 didukung pelonggaran kebijakan. Tapi ASRI underperform berat — 1Y −10,07%, 3Y −27,33%, 5Y −34,90%, 10Y −65,47%. Pasar konsisten memilih peer dengan track record eksekusi yang lebih baik.

SkenarioProbabilitasTarget Harga 12 BulanPemicu
Bull20%Rp200–250Penjualan aset besar, dividend resumption, atau M&A premium
Base55%Rp130–170Sideways di siklus properti moderat, marketing sales stabil di Rp1,5 triliun FY2026
Bear25%Rp95–115Marketing sales turun lagi, beban bunga naik, downgrade rating

8. Risiko Utamah2

RisikoDampakProbabilitasCatatan
Value trap berlanjut tanpa katalisTinggiTinggi10Y −65%, 5Y −35% — pola historis konsisten
Beban bunga menggerus laba operasionalTinggiSedang–TinggiInterest coverage 1,59x sangat tipis
Marketing sales gagal pulih ke run-rate FY2024TinggiSedangQ1 2026 Rp341 miliar masih jauh dari target
Multiple compression terus berlanjutSedangSedangP/B 0,21x bisa makin rendah jika ROE tidak naik
Risiko refinancing BCA Rp3,9 triliunSedangRendahRating sudah B3 stable, hubungan bank kuat
Kenaikan suku bunga BI ke 5%TinggiSedangFloating rate exposure ke beban bunga
Daya beli menengah-bawah belum pulihSedangTinggiKonsumen tunda pembelian properti
Tidak ada kebijakan dividen tunaiSedangTinggiSudah 9 tahun tidak ada dividen kas

9. Ringkasan Risiko-Return & Level Kuncih2

Karakteristik Setup Saat Ini:

  • Secara teknikal di Rp125, setup masih bearish dan sinyal mean reversion (dibahas di Bagian 6b) belum aktif.
  • Kriteria technical bounce historis (RSI di bawah 30 dengan volume spike di atas 1,5x rata-rata 20 hari) biasanya bertepatan dengan area low Rp110-119.
  • Bagi thesis deep value jangka panjang berbasis monetisasi landbank multi-tahun, Rp105 menjadi level di mana breakdown struktural akan membatalkan thesis tersebut.

Level Teknikal Kunci untuk Bounce Play:

  • Rp115–119 — area test ulang low 1Y, memerlukan konfirmasi RSI close di bawah 30
  • Rp105–110 — area undercut low 1Y dengan capitulation volume, zona high reward/high risk
  • Rp132 (MA10) — level resistance terdekat, +11% dari area Rp119
  • Rp146 (high 1 bulan sebelumnya) — resistance berikutnya, +22,7% dari area Rp119
  • Rp105 — level yang bila ditembus ke bawah mengindikasikan breakdown struktural dari low Rp119

Dari rata-rata area Rp114 dengan Rp105 sebagai level invalidasi dan Rp132 sebagai target resistance pertama, rasio risk-reward historis berada di kisaran 2,0<1>; terhadap Rp146 rasio naik ke 3,6<1>.

Saham ini bukan kandidat holding pasif — karakteristiknya menuntut manajemen aktif dan toleransi terhadap drawdown panjang bagi siapa pun yang mengikuti pergerakannya.

10. Checklist Monitoringh2

  • Metrik fundamental kunci tiap kuartal: marketing sales konsolidasi (residensial vs komersial), recurring income per segmen (mal, hotel, pariwisata), beban bunga aktual vs guidance, FCF, posisi kas vs jadwal pembayaran utang BCA.
  • Aksi korporasi yang harus diwaspadai: pengumuman dividen FY2025 di RUPS (biasanya Juni), rencana penjualan aset besar (GWK Bali pernah dipertimbangkan), rencana right issue/private placement, perubahan komitmen China Fortune Land Development untuk Suvarna Sutera.
  • Perubahan regulasi & kebijakan sektor: perpanjangan/perluasan PPN DTP, batas harga rumah yang ditanggung, BI rate move, kebijakan KPR LTV/FTV, perpajakan properti.
  • Katalis positif 12–36 bulan: monetisasi landbank besar via JV strategis, dividend resumption, M&A premium, pemulihan marketing sales ke Rp2,5 triliun+, penurunan BI rate ke 4,00% atau lebih rendah.
  • Red flags / sinyal yang perlu diwaspadai: close harian di bawah Rp105, marketing sales Q2-Q3 2026 di bawah Rp350 miliar/kuartal, downgrade rating Moody’s, gangguan rolling fasilitas BCA, pengumuman PMTHMETD dilutif, perubahan UBO/struktur kepemilikan mendadak.

11. Kesimpulanh2

ASRI di Rp125 adalah klasik deep value trap: P/B 0,21x dengan landbank 1.936 hektare yang implisit menempatkan harga di 14–18% dari estimasi RNAV, tapi ROE TTM 2,60%, interest coverage 1,59x, dan absennya dividen sejak 2017 menjelaskan kenapa diskon ini ada — dan bisa terus ada. Q1 2026 mencatat laba bersih Rp18,8 miliar, turun 41,9% YoY meski revenue tumbuh 14,7%; laba TTM Rp300 miliar mayoritas dari windfall Q4 2025 yang tidak recurring.

Secara teknikal, harga duduk di bawah MA10, MA100, dan MA200 sekaligus, dengan MACD bearish dan RSI 35,9 yang belum mencapai oversold. Sinyal entry mean reversion historis baru aktif saat RSI penutupan di bawah 30 dengan volume spike — kondisi yang belum terpenuhi.

Ringkasan: pada Rp125, valuasi belum mencerminkan margin of safety yang memadai berdasarkan setup teknikal saat ini. Area Rp110-119 dengan capitulation volume menjadi zona di mana kriteria technical bounce historis (15-20%, dibahas di Bagian 6b) terpenuhi, sementara katalis konkret seperti penjualan aset besar, dividend resumption, atau aksi M&A akan menjadi validasi bagi thesis investasi jangka panjang. Sektor properti 2026 punya tailwind makro yang nyata, namun BSDE, CTRA, PWON, SMRA menunjukkan track record eksekusi yang lebih baik dibandingkan ASRI berdasarkan data historis di atas.

Disclaimerh2

Analisis ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan rekomendasi personal beli atau jual. Data bersumber dari laporan keuangan publik, keterbukaan informasi BEI, dan media keuangan tepercaya, namun akurasinya tidak dijamin. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab masing-masing investor; konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum bertransaksi.

Back to Posts

Comments

Analysis NRCA
reads

Analisis Saham Nusa Raya Cipta (NRCA) FY2025: Turun 74% dari ATH, Tapi Fundamentalnya Justru Solid

NRCA crash dari Rp2.160 ke Rp555 setelah rumor Prajogo terbukti tidak berdasar. Tapi di Rp555: P/E 8x, P/B 0,99x, net cash Rp318 miliar, laba FY2025 +115%, dividen yield 4%. Ini value play nyata — kalau mau sabar nunggu teknikal berbalik.

Read analysis
Analysis NZIA
reads

Analisis Saham PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) Per Q3 2025 (Update Januari 2026)

Analisis mendalam saham PT Nusantara Almazia Tbk. (NZIA) per kuartal ketiga 2025, mencakup profil perusahaan, kinerja keuangan, analisis teknikal, valuasi, risiko, dan kesimpulan analisis.

Read analysis
Analysis TRIN
reads

Analisis Saham Perintis Triniti Properti (TRIN) Juni 2026: Sudah Anjlok 82%, Tapi Apakah Sudah Layak Dibeli?

TRIN bounce +17% ke Rp368 setelah crash 82% dari puncak Rp1.975. Bedah valuasi, kualitas laba, fundamental distress, dan jejak transaksi insider Rahayu Saraswati.

Read analysis

Posts recommended based on similar topics and analysis focus